Wednesday, 7 April 2010

HEMAT ENERGI KOK SUSAH YA?

Hemat energi. Kata- kata yang mudah diucapkan tetapi amat susah dilaksanakan. Sepertinya budaya Indonesia masih belum melaksanakan himbauan ini walaupun seluruh dunia sedang dilanda krisis. Krisis ekonomi dan juga krisis energi yang dampaknya dapat menyebar ke segala arah.

Bentuk energi bermacam-macam mulai dari minyak mentah hingga listrik. Dan herannya konsumsi energi masyarakat kita sangat besar baik dalam BBM maupun listrik. Konsumsi listrik di Indonesia masih berpusat di Pulau Jawa, mencapai 77% dari konsumsi nasional dan sekitar 20% dari konsumsi tersebut berasal dari Jakarta (earthhour.org).
Komposisi dari pemakaian listrik ini sebagian besar berasal dari sektor rumah tangga dan bisnis, terutama di DKI Jakarta. Oleh karena itulah Jakarta dipilih menjadi kota pertama di Indonesia sebagai tempat penyelenggaraan Program Earth Hour yang diadakan pada 28 Maret 2009 silam.

Tujuan dari program ini tentunya adalah untuk penghematan energi dengan cara yang cukup mudah. Hanya dengan mematikan lampu selama 1 jam secara serentak dan hasilnya akan cukup mengejutkan. Jika setiap kepala keluarga mengikuti program ini dengan penuh kesadaran maka kita dapat menghemat 300 MW sehingga cukup untuk mengistirahatkan 1 pembangkit listrik dan menyalakan 900 desa. Selain itu juga dapat mengurangi beban biaya listrik di Jakarta hingga Rp200 juta, mengurangi emisi sekitar 284 ton gas karbon dioksida, menyelamatkan lebih dari 284 pohon dan menghasilkan oksigen untuk lebih dari 568 orang.
Sebuah acara yang nampaknya mudah dan bermakna. Untungnya masyarakat cukup sadar untuk mengambil bagian dalam acara ini terbukti dengan banyaknya organisasi berupa universitas seperti London School of Public Relations – Jakarta yang turut aktif mengambil bagian dalam acara ini. Tak lupa juga SMS berantai yang disebarkan dari teman ke teman.

Terbukti acara tersebut cukup sukses dan akan diadakan kembali dengan frekuensi yang lebih sering. Upaya ini memang bukan satu-satunya cara untuk menghemat energi namun merupakan contoh cara yang efektif dibandingkan dengan cara-cara lain yang pernah dicoba. Pemerintah bukannya tidak pernah menghimbau masyarakat untuk menghemat energi malah himbauan tersebut sudah sangat sering sehingga masyarakat cenderung mengabaikannya. Entah karena cara sebelumnya terlalu merepotkan atau masyarakat semakin sadar akan krisis energi yang mengancam sehingga melakukan penghematan dengan terpaksa. Apapun alasannya, alangkah baiknya jika kita tetap mendukung program penghematan energi dengan cara apapun dan sebisa mungkin melakukannya dengan penuh kesadaran.
Ada faktor lain yang mungkin menjadi penyebab kurangnya perhatian masyarakat terhadap isu energi ini. Sebagai contoh artikel yang ditulis dalam detikFinance.com mengenai pidato hemat energi SBY yang dikecam oleh anggota DPR Yuddy Chrisnandi. "Jadi perintahnya seharusnya meminta aparatur negara dan instansi pemerintah berhemat. Kalau perlu fasilitas negara dipotong, bukan rakyatnya yang harus ngirit," kata anggota DPR Yuddy Chrisnandi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (2/5/2008). Seruan yang keras namun ada benarnya. Tidak ada yang salah di sini baik bapak presiden kita maupun anggota DPR. Tetapi jika pemerintah memberi contoh dengan menghemat energi terlebih dahulu dibandingkan dengan hanya menghimbau masyarakat maka mungkin hasilnya akan jauh lebih maksimal.

Di sisi lain, ada cara lain untuk menghemat energi terutama dalam penggunaan energi di perkantoran dan perindustrian. Biaya operasional perkantoran dan industri untuk penggunaan energi saat ini mencapai rata-rata 30-40 persen. Melalui program audit energi, penggunaan energi tersebut umumnya masih dapat dihemat. Bahkan, hanya dengan perubahan perilaku, penghematan bisa dicapai minimal 5 persen.
Demikian dikatakan Direktur Operasi PT Energy Management Indonesia/EMI (Persero) Judianto Hasan, Selasa (27/5), di Jakarta. PT EMI adalah BUMN yang memberikan jasa konsultasi hemat energi.

”Cara penghematan energi itu bisa ditempuh melalui dua hal, yaitu peningkatan efisiensi teknologi dan perubahan perilaku manusianya,” kata Judianto (KOMPAS.com). Suatu cara yang benar-benar harus dicoba oleh masyarakat kita. Mengubah perilaku atau budaya dalam pemakaian energi dalam hal ini listrik. Cara lain yang mudah tapi seringkali diabaikan adalah mematikan alat-alat elektronik ketika sudah selesai dipakai. Harus diakui, ini juga merupakan contoh hal sederhana yang tidak mudah dilakukan.

Sedangkan target penghematan energi sebesar 30% dirasakan sulit untuk direalisasikan. Entah hal ini merupakan pandangan yang pesimis atau realistis itu hanya dapat dinilai oleh masyarakat sendiri. Segala sesuatu memang harus diyakini penyelenggarannya hingga penghematan energi di tengah krisis energi global ini dapat terlaksana. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?

No comments:

Post a Comment